Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2013

Koma

Yang terakhir kali kulihat adalah hujan, kilat, dan kegelapan… ••• Aku menatap tubuhku sendiri, yang tengah terbujur kaku di ranjang sebuah rumah sakit. Tidak… aku belum mati. Aku hanya… koma? Setidaknya hanya itulah yang dapat kuketahui dari para perawat rumah sakit yang silih berganti memasuki kamar rawat inapku. Aku menatap kosong pada tubuhku sendiri. Tidak ada yang terluka. Semua tampak baik-baik saja dimataku. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku bisa terbaring di sana? Mengapa aku bisa melihat tubuhku sendiri? Mimpi? Tidak. Ini terlalu… terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Dan terlalu lama untuk menjadi sebuah bunga tidur. Aku tidak mungkin bermimpi selamanya bukan? “Halo kakak,” seseorang memasuki ruangan. Bayu. Anak itu… benar dia? Apa katanya tadi? Kakak? Aku tidak pernah mendengar dia memanggilku seperti itu seumur hidupku. Kecuali saat kami masih bersama, sewaktu kecil dulu. Ah, masa lalu. Anak itu tersenyum pada perawat yang baru saja selesai ...

Sora

Saat aku kecil, aku sering sekali berkhayal akan keberadaan seseorang yang sangat berarti bagiku. Seseorang yang selalu ada di sampingku kapanpun sepanjang waktu. Dan entah keajaiban apa, aku mendapatkannya. Ia cantik, manis, dan sempurna. Wajahnya yang polos dan kekanakan membuatku selalu ingin menjaga dan melindunginya. Ia begitu menakjubkan. Ia bisa melakukan apa saja yang kukatakan padanya. Ia bisa bernyanyi, menari, ia bisa mendongeng, ia bisa melakukan apapun. Aku memanggilnya, Sora. Ya, langit. Ia benar-benar seperti langit. Indah dan menenangkan. Bebas. Saat aku kesepian, ia selalu ada di sampingku dan menghiburku. Saat aku marah, ia akan mendekat dan memelukku untuk menenangkanku. Saat aku tidur, ia akan ada di sampingku dan menjagaku. Aku menyukainya. Dan saat itu aku sadar, bahwa aku telah jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada Sora, langitku. Ia adalah kebebasanku. Suatu hari, kami berjalan bersama. Saat itu cerah, sama seperti wajahnya. Tidak pernah men...

Bloody Rose

Dahulu, nenek sering bercerita kepadaku, katanya;  saat purnama tiba, seorang akan lahir dari dalam kegelapan, menjelma tanpa ada yang menyadari,dan bergerak mendekatimu yang tengah terlena akan pesona bulan.  Aku masih terlalu kecil saat itu untuk menyadari apa maksud dari perkataan nenek, namun saat ini, tidak ada alasan untuk tidak menyadari… TRANG…!! Aku bersalto ke belakang, mengacungkan pedang perakku ke depan tubuh dan bersiaga dalam posisi bertahan. Di depanku, seorang—tidak—seekor werewolf berbadan tegap, berbulu coklat kehitaman dengan mata semerah darah mengacungkan kuku-kukunya yang tajam ke arah wajahku. Taringnya yang panjang dan berlumuran darah merah segar tampak mengerikan di bawah temaram bulan. Aku meludah ke arah kiri, mengeluarkan sisa-sisa darah yang terasa amis di dalam rongga mulutku. Serigala itu mengaum kencang. Jika manusia biasa mendengarnya dalam radius lima puluh meter, mungkin telinga mereka akan merasakan sakit tak terkira hingga ...