Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2014

Bagaimana caranya dia membuatmu berhenti mengkonsumsi mie instan?

Kau ada di kantin, orang-orang tidak terlalu ramai saat itu. Di depanmu terhidang mie instan yang tengah mengepul, kuahnya yang berminyak justru sangat menggodamu untuk segera mencicipinya. Bukankah orang-orang mengatakan bahwa mie instan adalah makanan ternikmat di dunia? Kau begitu terfokus pada makanan itu sampai tidak menyadari ada dia yang sudah duduk di sebelahmu. Dia mengambil mangkuk mie instanmu bahkan sebelum kau mencicipinya. Kau menoleh padanya dengan raut wajah kesal, namun ia tersenyum sembari menyodorkan makanan lain di depanmu. Nasi goreng. Sebelum kau sempat berkata sesuatu, dia sudah lebih dulu menikmati mie instan yang seharusnya menjadi sarapanmu pagi itu. Kalimat apa yang kau harap keluar dari mulutnya? “Lebih baik aku yang sakit karena makanan ini, daripada kau.” Dan mulai saat itu, kau mungkin akan lebih sering memesan nasi goreng.

Kerumitan Sebuah Perasaan

Dan ketika kau termasuk ke dalam sekelompok orang yang mudah jatuh cinta, apa yang akan kau lakukan? Perasaan itu, belum tentu bisa kau sebut dengan panggilan cinta. Mungkin ia hanya sebatas kekaguman, kehormatan, keangungan, atau entahlah. Merasa berdebar, merasa tersipu tanpa kau tau mengapa itu bisa terjadi. Hanya kepada seseorang yang saat itu mungkin tengah bertatapan denganmu, berbicara denganmu, atau hanya sekedar duduk di dekatmu. Kau mengakui dirimu mencintai orang lain. Namun begitu ada seorang lainnya yang memperhatikanmu melebihi orang yang kau pikir tengah kau cintai, apakah kau mulai mencintainya pula? Ini sebuah catatan yang rumit. Serumit perasaan yang melanda penulisnya saat ini. Hanya… biarkan saja waktu membawanya seperti daun di atas sungai yang mengalir.

Mulai saat ini kamu adalah Air

Selamat malam Air, apa kabarmu malam ini? Lelah? Kamu habis bermain bulu tangkis bukan? Bagaimana permainannya? Menyenangkan? Pada siapa kamu meminjam raket? Bukankah kamu tidak memilikinya? Aku merindukanmu Air, sangat. Memikirkanmu membuat hatiku kian hari kian sakit. Air, salahkah bila aku iri padamu? Aku iri dengan kebahagiaan yang kamu miliki. Aku ingin bahagia seperti itu juga Air. Marahkah kamu bila aku mengatakan aku iri padamu? Air, ketika kamu mengatakan bahwa kamu dan teman-teman kita akan bertemu, bermain bulu tangkis bersama, atau menonton film bersama, rasa iri itu semakin menjalar dalam hatiku. Aku ingin berada diantara kalian juga Air. Aku ingin berbagi tawa bersama kalian juga. Salahkah jika aku memendam iri seperti itu? Kepada kamu? Aku hanya ingin tertawa bersamammu Air. Aku ingin bisa bermain bersama teman-temanku seperti kamu bermain bersama teman-temanmu. Aku kesepian Air, dan kian bertambah ketika kamu mulai mengacuhkanku. Sedih Ah, aku surat ini jadi berisi kelu...