Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2015

Surat untuk Rio

Yo, kecelakaan itu merenggutmu dariku. Seperti kecelakaan yg juga merenggut Bg Anton dan kak Rama. Seperti bagaimana aku melihatmu terakhir kali di ICU waktu itu. Seperti bagaimana perasaan yg mengalir melalui genggaman tangan kita. Seperti saat itu, saat ini aku rapuh. Kemarin aku hampir mencelakakan diriku sendiri. Entah apa yang tengah kupikirkan, aku tidak melihat lubang besar di jalanan itu Yo. Aku hampir mencelakakan diriku seperti kamu mencelakaan dirimu saat itu. Sampai sekarang gak ada yg tau Yo, bagaimana kecelakaan itu menimpamu. Sampai sekarang kami gak tau apakah saat itu kamu mengalami kecelakaan itu sendirian atau bersama orang lain. Karena saat itu orang-orang hanya menemukanmu tergeletak di jalanan itu sendirian. Penuh darah. Motormu berjarak hampir sepuluh meter jauhnya dari tubuhmu sendiri. Tapi tidak ada lubang di jalanan Yo. Tidak ada tanda-tanda alam yg dapat membuatmu terjatuh. Kita punya kebiasaan yg sama Yo, tidak bisa pelan saat berkendara, terlebih di ja...

Kreatifitas

“Tuliskan saja apa yang ingin kamu ungkapkan. Cintaku tidak pernah membatasi kreatifitasmu, meski itu berasal dari mantan. Terkadang akupun sering menoleh ke belakang, karena itulah sifat manusia. Suka sekali mengenang masa lalu.” Dia tersenyum sembari meraih cangkir kopi dan menyesapnya dengan nikmat. Aku balas menatapnya, tak tau harus mengatakan apa. “Tidak merasa marah? Kesal?” “Kalau seandainya aku mengatakan bahwa aku kangen mantan, apa itu berarti aku harus kembali padanya? Tidak kan? Tenang saja, aku tau resiko pacaran dengan penulis.” Aku merengut mendengar perkataannya, “memangnya apa resiko pacaran dengan penulis?” tanyaku lagi. Dia cuma tersenyum saja. “Seperti harus tahan melihatmu tersenyum sendiri seperti orang gila.” Lalu dia tertawa terbahak bahak. Aku merengut, meski sebenarnya hanya berusaha menyembunyikan senyum. Aku paham meski tidak harus mendengar penjelasannya. Aku mengerti meski dia tidak mengatakannya. “Enak aja.” Kataku, menutup topik. ...

Mimpi dan Merindu

Ada pepatah yang mengatakan bahwa jika kita memimpikan seseorang, maka kemungkinan orang tersebut sedang merindukan kita. Hari ini aku memimpikan seorang teman lama yang dulunya begitu berarti. Yang dulunya begitu aku perhatikan, yang dulunya aku kagumi dan ingin agar dia selalu melihat apa yang ingin aku lakukan. Yah, dulu dia sangat berarti untukku. Dia memberikanku banyak sekali hal yang dapat aku pelajari. Dia adalah sahabat, guru, dan juga pendengar yang baik. Dia teman bertukar pikiran yang menyenangkan. Dan, hanya dengan dia aku bisa berubah menjadi orang lain. Akhir-akhir ini aku sama sekali tidak pernah memikirkan dia lagi. Bahkan aku sudah lama sekali tidak mendengar kabarnya. Rasanya juga sudah lama sekali tidak berbicara apalagi bertemu dengannya. Padahal aku berteman dengannya di semua media social. Itulah anehnya manusia. Dia punya banyak jalan untuk berbicara satu sama lain, namun tidak dilakukan. Semua yang ingin di ucapkan justru di pendam dalam hati ketimbang di ...