Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2014

Sedikit tentang Papa

Laki laki yang utama di hatiku masih papaku. Dua belas tahun aku hidup bersama papa. Dan dia sukses jadi idolaku. Tapi hey, siapa sih yang tidak mengidolakan ayahnya sendiri? Oke, mungkin ada banyak di luar sana, tapi salah satunya bukan aku. Papa orangnya baik, ramah, suka bersenda gurau dan baik banget! Dia selalu mengabulkan apapun yang aku minta. Dan dia jarang sekali marah. Jarang bukan berarti tidak pernah ya. Aku ingat sekali, dulu aku sangat nakal. Naik sepeda jauh dari rumah, ke tempat temanku yang merupakan anak teman papa. Rumahnya jauh banget buat anak umur lima tahun. Dan saat itu bahkan aku menyeberang jalan, simpang empat yang padat kendaraan. Bayangkan saja, jalanan ramai tanpa lampu lalu lintas, dan anak berumur lima tahun dengan sepeda roda empat berjalan melaluinya. Jangan tanya betapa marahnya papa waktu itu. Ia langsung membawaku pulang dengan motornya. Sepedaku ditinggalkan di rumah teman papa itu. Dan begitu sampai di rumah, tubuhku langsung dihujani l...

Surat Ketiga : Sesuatu yang Tidak Kumengerti Apa

Halo kamu, sedang apa saat membaca surat ini? Kuharap kamu tidak meninggalkan sesuatu yang penting hanya untuk membaca suratku yang tidak penting ini. Jujur saja, perasaanku masih tidak enak. Rasanya masih ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang salah. Aku masih terbayang akan permasalahan kita sebelumnya. Entah kenapa, meski kamu mengatakan bahwa kamu telah memaafkanku, perasaan bersalah itu masih ada, perasaan takut itu masih membekas. Entahlah, rasanya aku takut sekali kehilanganmu saat itu. Sampai saat ini pun, meski semua terlihat baik baik saja, aku tetap saja merasa khawatir. Aku tidak mau semuanya memburuk. Aku tidak tau bagaimana menggambarkannya, namun semua itu mendadak saja membuatku sedih. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kamu benar benar pergi. Saat kamu mengatakan kamu benci padaku, kamu kecewa padaku, bahkan saat kamu menyuruhku berpikir sendiri tentang kesalahanku, rasanya seperti ada sesuatu yang menyakitkan, yang tidak bisa kujelaskan dim...

Surat Kedua; Maaf yang Mungkin Tidak Berarti Apa-Apa

Hey kamu, surat ini hanya untukmu. Sedang apa kamu saat ini? Sudah makan? Jangan malas makan sepertiku, nanti kamu sakit. Rasanya sungguh tidak enak, belum lagi jikalau harus meminum obat yang jelas-jelas pahit. Maafkan aku. Mungkin kalimat itu tidak berarti apa-apa. Aku tau apa yang telah kulakukan sebelumnya itu salah. Menghilang begitu saja, tidak menerima telpon, tidak memberi kabar… aku tau tindakanku itu keterlaluan. Aku salah. Untuk sekarang, aku cuma bisa minta maaf. Mungkin kedengarannya seperti tidak tulus ya? Cuma permintaan maaf biasa saja. Tapi sungguh, aku benar-benar menyesal. Rasanya sedih sekali, mau menangis, karena kamu jadi seperti ini. Maaf karena membuatmu merasa kecewa. Maaf karena membuatmu merasa kesal, merasa marah. Rasanya aneh sekali ketika kamu membalas chat pendek pendek. Rasanya menyeramkan. Percayalah, bertengkar denganmu adalah hal terakhir yang aku inginkan. Kalau saja bisa, mungkin aku akan langsung mendatangimu dan mengucapkan maaf. Tapi kuras...

Surat Pertama; Menghilang Sesaat

Hey kamu, yang sedang ada di sana. Iya kamu, siapa lagi yang akan ku maksud jika bukan kamu. Apa yang sedang kamu lakukan ketika membaca surat ini? Eh, ini bisa dikategorikan sebagai surat tidak ya? Hahaha… terserah saja. Selamat pagi; jika kamu membaca pada pagi hari. Selamat siang; jika kamu membacanya saat siang hari. Selamat malam; jika kamu membacanya pada malam hari (sejujurnya aku akan kesal jika kamu membaca ini pada malam hari, sungguh telat sekali). Aku menulis ini pada hari rabu, 10 september 2014. Kamu bisa lihat tanggal postingnya nanti. Saat ini sudah jam 01:25 dini hari. Entah mengapa mataku tidak juga terpejam, tidak kantuk sama sekali. Dan aku menulis ini setelah melakukan sedikit hal. Well… melalui ini, aku ingin memberitahu bahwa seharian ini (tanggal 10 ini maksudku,) aku akan menghilang. Sedikit hal yang kumaksud sebelumnya adalah; menonaktifkan semua akun media sosial dimana kamu bisa menghubungiku. Kamu tidak akan menemukanku dimanapun. Tidak di Path, Twit...

Tentang Perasaan dan Kerinduan

Daripada berdalih bahwa ini adalah bentuk pengertianku terhadapmu, aku lebih suka menyebutnya, bertarung melawan sikap egois dalam diriku. Iya, mungkin terdengar sama saja, tapi entahlah, aku merasa lebih baik jika menganggapnya sebagai bentuk kesabaran dari keegoisan. Aku kekanakan, seperti katamu. Aku labil, ya, gampang sekali mood ini berubah, seperti langit di atas sana, sebentar cerah, sebentar gelap dengan petir menggelegar. Tapi sungguh, aku merasa sangat kesepian akhir akhir ini. Kamu semakin hari semakin sibuk, chatting diantara kita terjadi semakin jarang, telepon diantara kita terjadi semakin singkat. Aku merindukan saat saat dulu ketika kamu mempunyai lebih banyak waktu luang untuk berbicara denganku. Aku lebih merindukan itu dibanding apapun. Ya, tapi aku tau kamu bekerja. Tuntutan pekerjaan itu semakin mengekangmu, menyita waktumu, menghabiskan semangatmu, hingga menyisakan lelah, yang tak sanggup kau tahan, menyebabkan jarangnya komunikasi diantara kita. Setia...

Rasa

Ada satu hal yang takut ku ungkapkan kepadamu. Yaitu perasaan kosong ketika kedatanganku harus diakhiri dengan kepergian. Sanggupkah aku melakukannya? Kita selalu yakin, di suatu masa kelak kita akan berjumpa. Aku akan datang ke tempatmu, mengiring koper kecil berwarna coklat. Dan kau akan berdiri di sana, tersenyum menyambutku. Mungkin kita akan bergandengan tangan menuju pintu keluar, dan kau akan bercerita dengan riang tentang betapa menakjubkannya kota kelahiranmu, dan betapa aku akan sangat menyukainya. Kau akan mengenalkanku pada keluargamu, pada teman-temanmu, mengajakku ke tempat favoritmu, atau bahkan mengajakku berkeliling tanpa tujuan. Kita akan tertawa bersama, bercerita banyak hal, dan mengabadikan momen-momen kebersamaan kita. Atau bisa jadi kita hanya duduk santai di dalam rumah, menonton bersama sambil makan makanan ringan, lalu bercerita penuh kelegaan; betapa akhirnya kita bisa bersama tanpa terpisah jarak. Itu adalah bayangan penuh kebahagiaan yang...

Kali Pertama yang Lainnya

Apapun yang terjadi hari ini, tidak lebih menyakitkan daripada apa yang pernah terjadi dalam hidupku sebelumnya. Karena itu aku masih dapat berdiri tegak, tersenyum dan tertawa seolah tidak terjadi apa-apa. Aku selalu percaya, “selalu ada kali pertama dalam segala hal,” dan mungkin hari ini adalah kali pertama aku kehilangan pekerjaan. Ayolah, ini hanya sebuah pekerjaan. Toh aku tidak akan mati hanya karena aku tidak bekerja. Dan aku tidak akan seputus asa itu untuk meratapi nasib seolah tidak ada hari esok. Aku sudah mengalami kali pertama kehilangan ayah, kali pertama kehilangan sahabat, kali pertama kehilangan nenek, kali pertama kehilangan abang, kali pertama kehilangan adik, dan kali pertama kehilangan ibu. Kali pertama kehilangan pekerjaan bukanlah hal besar. Selalu ada pengganti yang lebih baik untuk sesuatu yang telah hilang. Aku hanya perlu lebih membuka mata terhadap apa yang ada di depanku. Tidak perlu melihat-lihat kebelakang untuk menyesali keadaan. Toh sampai sekar...

Kali Pertama yang Lainnya

A papun yang terjadi hari ini, tidak lebih menyakitkan daripada apa yang pernah terjadi dalam hidupku sebelumnya. Karena itu aku masih dapat berdiri tegak, tersenyum dan tertawa seolah tidak terjadi apa-apa. Aku selalu percaya, “selalu ada kali pertama dalam segala hal,” dan mungkin hari ini adalah kali pertama aku kehilangan pekerjaan. Ayolah, ini hanya sebuah pekerjaan. Toh aku tidak akan mati hanya karena aku tidak bekerja. Dan aku tidak akan seputus asa itu untuk meratapi nasib seolah tidak ada hari esok. Aku sudah mengalami kali pertama kehilangan ayah, kali pertama kehilangan sahabat, kali pertama kehilangan nenek, kali pertama kehilangan abang, kali pertama kehilangan adik, dan kali pertama kehilangan ibu. Kali pertama kehilangan pekerjaan bukanlah hal besar. Selalu ada pengganti yang lebih baik untuk sesuatu yang telah hilang. Aku hanya perlu lebih membuka mata terhadap apa yang ada di depanku. Tidak perlu melihat-lihat kebelakang untuk menyesali keadaan. Toh sampai seka...