Ada satu hal yang takut ku ungkapkan kepadamu. Yaitu perasaan kosong ketika kedatanganku harus diakhiri dengan kepergian. Sanggupkah aku melakukannya?
Kita selalu yakin, di suatu masa kelak kita akan berjumpa. Aku akan datang ke tempatmu, mengiring koper kecil berwarna coklat. Dan kau akan berdiri di sana, tersenyum menyambutku. Mungkin kita akan bergandengan tangan menuju pintu keluar, dan kau akan bercerita dengan riang tentang betapa menakjubkannya kota kelahiranmu, dan betapa aku akan sangat menyukainya.
Kau akan mengenalkanku pada keluargamu, pada teman-temanmu, mengajakku ke tempat favoritmu, atau bahkan mengajakku berkeliling tanpa tujuan. Kita akan tertawa bersama, bercerita banyak hal, dan mengabadikan momen-momen kebersamaan kita.
Atau bisa jadi kita hanya duduk santai di dalam rumah, menonton bersama sambil makan makanan ringan, lalu bercerita penuh kelegaan; betapa akhirnya kita bisa bersama tanpa terpisah jarak.
Itu adalah bayangan penuh kebahagiaan yang bisa kupikirkan tentangmu, dan bagaimana kelak jika kita bertemu. Namun tetap ada satu hal yang mengusik pikiranku sedari dulu.
“Sanggupkah aku jika kelak waktu itu habis dan kita harus berpisah?”
Aku benci perpisahan, meninggalkan atau ditinggalkan. Dan sampai sekarang perasaan seperti itu tetap terasa sakit, walaupun waktu telah mencoba mengikisnya sedikit demi sedikit. Namun tetap saja aku harus tau pepatah lama itu; setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Mungkin ini lebih ke perasaan takut, “karena aku mencintai sesuatu yang sewaktu-waktu bisa pergi.”
Aku hanya tak ingin menjadi dia, yang ketika bertemu denganmu, itu adalah kali pertama dan terakhir.
Comments
Post a Comment