Aku mulai lupa. Jujur, aku adalah seseorang yang pelupa. Tidak terhitung sudah banyak hal yang telah kulupakan, baik itu yang disengaja maupun tidak. Aku sering melupakan waktu, melupakan Tuhan, melupakan hal yang tidak kusuka. Melupakan tugas, melupakan letak benda-benda penting, hingga melupakan bahwa aku masih punya orang yang peduli padaku. Aku melupakan hari ulang tahunku, karena tidak ada seorang pun yang mengingatkanku. Aku melupakan wajah teman-temanku, karena mereka telah menemukan teman-teman baru dan tidak mengabariku. Aku melupakan suara ayahku, melupakan wajah ibuku. Aku lupa bagaimana caranya main gitar, aku lupa bagaimana rasanya sakit karena terjatuh dari motor. Banyak sekali hal yang kulupakan. Sampai-sampai aku tak dapat menghitungnya. Karena aku lupa. Aku mulai lupa bagaimana rasanya jatuh cinta padamu. Aku mulai lupa bagaimana suaramu. Aku mulai lupa bagaimana caramu tertawa. Bantu aku mengingat bagaimana kamu. Tak sadarkah kamu, betapa jarak diantara kita ...
Papa Laki laki yang utama di hatiku masih papaku. Dua belas tahun aku hidup bersama papa. Dan dia sukses jadi idolaku. Tapi hey, siapa sih yang tidak mengidolakan ayahnya sendiri? Oke, mungkin ada banyak di luar sana, tapi salah satunya bukan aku. Papa orangnya baik, ramah, suka bersenda gurau dan baik banget! Dia selalu mengabulkan apapun yang aku minta. Dan dia jarang sekali marah. Jarang bukan berarti tidak pernah ya. Aku ingat sekali, dulu aku sangat nakal. Naik sepeda jauh dari rumah, ke tempat temanku yang merupakan anak teman papa. Rumahnya jauh banget buat anak umur lima tahun. Dan saat itu bahkan aku menyeberang jalan, simpang empat yang padat kendaraan. Bayangkan saja, jalanan ramai tanpa lampu lalu lintas, dan anak berumur lima tahun dengan sepeda roda empat berjalan melaluinya. Jangan tanya betapa marahnya papa waktu itu. Ia langsung membawaku pulang dengan motornya. Sepedaku ditinggalkan di rumah teman papa itu. Dan begitu sampai di rumah, tubuhku langsung dihuj...