Skip to main content

Posts

Aku Mulai Lupa

Aku mulai lupa. Jujur, aku adalah seseorang yang pelupa. Tidak terhitung sudah banyak hal yang telah kulupakan, baik itu yang disengaja maupun tidak. Aku sering melupakan waktu, melupakan Tuhan, melupakan hal yang tidak kusuka. Melupakan tugas, melupakan letak benda-benda penting, hingga melupakan bahwa aku masih punya orang yang peduli padaku. Aku melupakan hari ulang tahunku, karena tidak ada seorang pun yang mengingatkanku. Aku melupakan wajah teman-temanku, karena mereka telah menemukan teman-teman baru dan tidak mengabariku. Aku melupakan suara ayahku, melupakan wajah ibuku. Aku lupa bagaimana caranya main gitar, aku lupa bagaimana rasanya sakit karena terjatuh dari motor. Banyak sekali hal yang kulupakan. Sampai-sampai aku tak dapat menghitungnya. Karena aku lupa. Aku mulai lupa bagaimana rasanya jatuh cinta padamu. Aku mulai lupa bagaimana suaramu. Aku mulai lupa bagaimana caramu tertawa. Bantu aku mengingat bagaimana kamu. Tak sadarkah kamu, betapa jarak diantara kita ...
Recent posts

Papa

Papa Laki laki yang utama di hatiku masih papaku. Dua belas tahun aku hidup bersama papa. Dan dia sukses jadi idolaku. Tapi hey, siapa sih yang tidak mengidolakan ayahnya sendiri? Oke, mungkin ada banyak di luar sana, tapi salah satunya bukan aku. Papa orangnya baik, ramah, suka bersenda gurau dan baik banget! Dia selalu mengabulkan apapun yang aku minta. Dan dia jarang sekali marah. Jarang bukan berarti tidak pernah ya. Aku ingat sekali, dulu aku sangat nakal. Naik sepeda jauh dari rumah, ke tempat temanku yang merupakan anak teman papa. Rumahnya jauh banget buat anak umur lima tahun. Dan saat itu bahkan aku menyeberang jalan, simpang empat yang padat kendaraan. Bayangkan saja, jalanan ramai tanpa lampu lalu lintas, dan anak berumur lima tahun dengan sepeda roda empat berjalan melaluinya. Jangan tanya betapa marahnya papa waktu itu. Ia langsung membawaku pulang dengan motornya. Sepedaku ditinggalkan di rumah teman papa itu. Dan begitu sampai di rumah, tubuhku langsung dihuj...

Perubahan

“Aku tidak butuh puji-pujian. Aku hanya mau kamu menganggapku ada dan menganggapku penting.” Dulu ada seseorang, dia selalu memuji gue, membanggakan gue, dan mengatakan bahwa gue memberinya banyak sekali pelajaran hidup. Dia sering sekali mengatakan itu, disaat gue berpikir bahwa gue gak melakukan apapun yang berarti. Dia yang dulu mengatakan bahwa dia takut ditinggalkan dan dia gak akan meninggalkan gue. Tapi sekarang toh dia melakukan hal yang sebaliknya. Bukan berarti gue merasa menyesal, atau tulisan ini menyatakan gue masih gak bisa lupa, hanya saja; gue cuma mau bilang bahwa hal-hal seperti puji-pujian itu suatu saat bisa berubah. Lebih baik tidak mengatakan apa-apa daripada suatu saat harus menjilat ludah sendiri. Manusia berubah, itu pasti. Tapi bagaimana perubahan itu tetap membuat bertahan, itu susah.

Perumpamaan

Ketika ingin menyatakan dengan kalimat yang lebih simple, tapi tidak bisa menemukan padanan yang pas, then .... Bayangkan jika kamu memiliki sebuah roti. Ada 2 keadaan dimana itu tetap disebut dengan 'berbagi'. Pertama, kamu membaginya denganku, lalu kita akan makan roti itu bersama. Mungkin kamu akan makan lebih dahulu jika lapar, tapi kamu menyiapkan bagian untukku kemudian. Kedua, kamu makan roti itu lebih dulu, lalu ketika kau tidak dapat menghabiskannya, kau akan menyerahkan sisa roti itu kepadaku. Lalu, ganti roti tadi menjadi waktu. Apa kamu akan mencari waktu khusus diantara sibukmu untukku, atau kamu hanya memberiku sisa-sisa waktu yang kau punya. Sisa-sisa. Kemudian pikirkanlah lagi, bagimu, dimana sebenarnya aku ditempatkan. Karena kupikir .... aku menaruhmu terlalu tinggi, ibarat jika aku yang memiliki roti itu, aku akan menyuruhmu membaginya, tidak peduli jika kau mengambil porsi yang lebih banyak. Bagiku, kau seperti itu.

Jadi ....

Aku ingin bercerita, jadi… dengarkan aku. Oke, baca. Aku lagi suka sama seseorang. Tapi aku juga tidak yakin apa aku menyukainya atau tidak. Dia orang yang menyebalkan, setiap kali kami terlibat pembicaraan, kami selalu saja memperdebatkan hal yang tidak penting. Tapi disitulah letak permasalahannya… aku selalu tertarik pada orang yang bisa membuatku kesal. Itu mengingatkanku pada Cancer. Pada orang yang jelas-jelas menyebalkan, dan sudah mencuri hatiku terang-terangan. Iya! Terang-terangan! Dia mengambilnya, lalu menghilang begitu saja. Sekarang, aku tidak tau dimana hatiku berada. Aku merasa kehilangan, sungguh. Mungkin aku masih tetap bisa menyukai orang lain, namun entah kenapa rasanya tak lagi sama. Aku membutuhkan hatiku yang telah di curi olehnya. Ia mencuri setengah hatiku lho kalau dipikir. Saat itu, aku berhasil menggenggam setengah hatinya, namun hatinya lama-kelamaan mencair, kemudian menguap lalu lenyap. Kalau sudah begitu, aku bisa apa?

Memberi Hiburan

“Sini, sini.” Dia menepuk pelan tempat kosong di sebelahnya, aku menurut dalam diam, namun tidak langsung duduk. Aku berdiri tepat di depannya. “Ngapain?” Tanyaku. “Tangan mana tangan?” Tanyanya lagi. “Tangan apa?” “Tanganmu sini, terserah yang mana.” Aku mengulurkan tangan kananku dengan tapak membuka ke atas. Dia memegang tanganku, lalu menyentakku hingga terpaksa duduk di sebelahnya. Setelah duduk, dia menautkan jari-jari kami dengan cepat. Tangan kirinya yang besar menenggelamkan tangan kananku dalam genggamannya. Berapa kalipun mencoba untuk melepaskan tautan itu, aku takkan berhasil. “Kau ngapain sih?!” Dia tidak menjawab pertanyaanku, justru memaksa kepalaku bersandar pada bahunya dengan tangannya yg bebas. Aku menghela napas, tidak ada gunanya memberontak pergi, jadi kuputuskan untuk menurut. “Tidurlah.” Katanya singkat. “Hah?” “Tidur. Matamu bengkak. Pejamkan saja matamu.” Aku menghela napas. Disuruh duduk ya duduk. Disuruh pejamkan mata ya pejamkan saja matamu. A...

Kode

“Setiap pacar orang punya chance buat jadi pacar kita, jangan lupa, pacar lo yg sekarang juga dulu pacar orang.” Kataku sambil tersenyum santai. “Perkataan lo bukan meminta gue buat jadi pacar lo secara tidak langsung kan?” Dia membalas. Aku memutar bola mata seolah itu adalah perkataan yang paling konyol yang pernah kudengar, “ Not even my wildest dream. Pemikiran gila apa itu…” bantahku malas. Dia tersenyum sinis. “Setiap orang punya changes buat jadi pacar kita’, lo ga lagi kodein gue kan?” Aku mendengus kesal, “Lo ngerasa itu kode? Gua yg nulis aja ga kepikiran sampe sana.” “Masa?” Tanyanya skeptis. “Whatever.” Aku malas berdebat dengannya. Dia terlihat ingin melanjutkan, namun aku memilih diam sambil bertopang dagu. Kubiarkan dia sibuk sendiri dengan ponselnya. Aku mencoba cuek walau sesekali mencuri pandang, lalu menghela napas pelan tidak ketara. Kalau saja dia tau, bahwa kemarin-kemarin yang terasa seperti sudah lama sekali, aku pernah memikirk...