Aku berlindung di balik pepohonan, menatap dua orang yang tengah bercanda di kejauhan. Menghela nafas, aku memegangi dada yang sedari tadi terasa sesak. Sial, ternyata rasanya masih sakit. Aku menggeleng perlahan dan berjalan menjauh, memerintahkan otakku untuk berhenti memikirkan mereka. Aku berjalan menuju salah satu bangku di taman kampus, membiarkan diriku berada di dalam dunia yang berbeda untuk sejenak. Aku lelah. Aku lelah dengan semua kepura-puraan ini. Aku kembali menghela nafas berat, lalu menyeka kedua mata yang mulai memanas. Mendongak ke arah langit, aku menggigit bibir putus asa. Kenapa aku selalu menempatkan perasaan kepada orang yang salah? Mengapa takdir selalu mempertemukanku pada orang yang salah? Yang lebih parah, mengapa aku bisa memberikan perasaan pada orang yang tidak tepat? Ya, aku yang bodoh. Aku yang tidak bisa mengatur perasaanku. Kebodohan kedua adalah, karena aku malah melibatkan orang lain sebagai pelampiasanku. Sial. Aku benar-benar bodoh! ...