Aku berdiri mematung, mencoba memahami apa yang tengah terjadi di depanku saat ini. Gadis cilik berusia sepuluh tahun itu tampak asik memotong motong sesosok tubuh yang ada di depannya. Tanpa ekspresi, tanpa ada belas kasihan maupun raut ketakutan. Aku menelan ludah gugup. “Apa kau tidak ingin mencobanya?” Gadis itu bertanya datar. Aku menggeleng sp ontan. Melihatnya saja aku sudah nyaris pingsan, apalagi ikut meniru apa yang dia lakukan? “Bukankah kau yang mengatakan bahwa paman ini adalah orang brengsek? Aku hanya membalaskan dendammu padanya.” Gadis itu kembali bersuara datar. Aku meremas kesepuluh jariku dengan kegelisahan yang pastinya akan sangat terlihat. Aku melihat ke sekeliling, rumah ini begitu sepi dan suram. Tidak ada siapapun kecuali aku, gadis itu dan mayat yang ada di depannya. Gadis itu memotong jari tangan Paman Hiroshi―si mayat―satu persatu dan menyerahkannya padaku. Aku mundur teratur, aku masih heran mengapa sampai saat ini aku belum juga pingsan. “Ke...