Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2014

Kado Apa yang Membahagiakanmu?

Hari ini adalah hari ulang tahunmu, namun dia tidak mengatakan apa-apa. Kamu menunggu hingga sore menjelang, mengira ia tengah menyiapkan sesuatu yg spesial untukmu. Namun yang kau dapat hanyalah pesan singkat yang mengatakan; selamat ulang tahun, maaf baru sempat bilang karena lagi sibuk-sibuknya. Kau kesal, tentu saja. Hingga ia datang malamnya hanya untuk memberimu kado kecil yang terlihat tidak istimewa. Sebuah kotak berbentuk peti harta karun berisi permen dan cokelat koin. Ia belum sempat membeli kado yang istimewa, katanya. Untuk sementara makan cokelat dulu, kau suka cokelat kan? Lanjutnya lagi. Kau hanya mengiyakan, mengerti kesibukan dirinya akhir2 ini, kau juga mengerti bahwa pekerjaannya membutuhkan lebih banyak konsentrasi. Maka ketika ia pulang kau dengan berat hati mengagumi kotak harta karun berisi cokelat itu. Yang tidak kau tau, dibalik koin-koin itu benar-benar ada harta karun, sebuah cincin perak dengan permata kecil di tengahnya. Entah mengapa kau terharu, t...

Hidup

Bayi itu kecil sekali, terlihat rapuh bagai porselen. Namun dia adalah bayi laki-laki yang sehat. Awalnya kukira malaikat kecil itu tidak akan sanggup bertahan, namun dia lebih hebat daripada yang kami pikirkan. Rosie memeluk bayi kecil itu di samping tubuhnya. Wajahnya yang awalnya pucat kini terlihat lebih merona begitu menyentuh putranya. Aku tersenyum, mengusap ujung mata yang mulai berair. “Akan kau beri nama siapa?” Tanyaku pada Rosie. Rosie tersenyum sembari menggeleng lemah, “aku ingin Alex yang memberinya nama.” Jawabnya. Aku menghela napas sebentar. Alex adalah suami Rosie dan juga kakak sepupuku. Dia adalah seorang tentara, dan sekarang sedang bertugas jauh diperbatasan negara. Alex sudah pergi hampir delapan bulan, dan ia tidak dapat dihubungi sejak sepuluh hari terakhir. Aku sangat menyukai Rosie, sekaligus kagum padanya. Aku sendiri tidak dapat membayangkan masa kehamilan tanpa suamiku kelak, namun Rosie bahkan dapat bertahan walau suaminya tidak menemaninya me...

Hanya Sebuah Mimpi

Tadi pagi aku bermimpi. Mimpi, bunga tidur maksudku. Bukan pengertian lain dari berkhayal akan masa depan. Mimpi itu terasa nyata dan menyenangkan sekali, hingga ketika aku bangun tidur, rasanya begitu hampa. Tak pernah aku sebegitu merasa menyesal telah bangun dari tidurku sepanjang hampir 8 tahun ini. Aku masih ingat jelas mimpi itu hingga sekarang, dan aku tidak berniat melupakannya sedikitpun. Aku tidak tau mengapa aku bisa bermimpi seperti itu, tapi mungkin itu pengaruh jika aku benar merindukannya dan mengharapkannya jadi kenyataan. Karena itu aku menuliskannya disini, menjaga agar aku tidak lupa. Disana, di mimpi itu, aku berada di tempat yang sangat bagus, sebuah gedung yang besar dan luas yang ditata sedemikian rupa hingga tampak berkelas. Semua orang mengenakan pakaian terbaiknya, semua orang memamerkan senyum bahagianya. Termasuk aku, tentu saja. Di berbagai tempat orang-orang mengeluarkan tawa penuh kebahagiaan, memotret penuh dengan senyuman kebanggaan. Awalnya aku ...