Skip to main content

Hanya Sebuah Mimpi

Tadi pagi aku bermimpi. Mimpi, bunga tidur maksudku. Bukan pengertian lain dari berkhayal akan masa depan. Mimpi itu terasa nyata dan menyenangkan sekali, hingga ketika aku bangun tidur, rasanya begitu hampa.
Tak pernah aku sebegitu merasa menyesal telah bangun dari tidurku sepanjang hampir 8 tahun ini.
Aku masih ingat jelas mimpi itu hingga sekarang, dan aku tidak berniat melupakannya sedikitpun. Aku tidak tau mengapa aku bisa bermimpi seperti itu, tapi mungkin itu pengaruh jika aku benar merindukannya dan mengharapkannya jadi kenyataan. Karena itu aku menuliskannya disini, menjaga agar aku tidak lupa.
Disana, di mimpi itu, aku berada di tempat yang sangat bagus, sebuah gedung yang besar dan luas yang ditata sedemikian rupa hingga tampak berkelas. Semua orang mengenakan pakaian terbaiknya, semua orang memamerkan senyum bahagianya. Termasuk aku, tentu saja. Di berbagai tempat orang-orang mengeluarkan tawa penuh kebahagiaan, memotret penuh dengan senyuman kebanggaan. Awalnya aku tidak mengerti apa yang terjadi, sebelum kemudian aku ternyata adalah bagian utama dari kebahagiaan itu.
Aku berjalan ke arah sosok pria yang masih terlihat gagah, seperti terakhir kali aku melihatnya. Ia tinggi, mengenakan jas yang membuatnya tampak semakin berwibawa. Itu papaku. Aku berjalan ke arahnya, dan kemudian ia membungkuk kepadaku. Aku memeluknya, mencium kedua pipinya, keningnya, lalu aku menggandengnya berjalan melewati orang-orang yang seolah memang sengaja memberi jalan pada kami. Lalu dari arah belakang, seseorang merangkul lengan kiriku, dan ketika aku menoleh, itu mamaku.
Kami bertiga berjalan membelah kerumunan orang-orang yang tersenyum pada kami. Aku berjalan menggandeng keduanya dengan perasaan bahagia. Ini keluargaku, ini yang kuinginkan dari dulu, berada di antara mereka. Lalu sayup-sayup aku mendengar seseorang berbicara melalui michrophone. Ia memanggil namaku, mengucapkan sesuatu seperti ‘kelulusan’ dan 'wisuda’.
Ah, apakah ini mimpi tentang hari kelulusanku?
Mimpiku berakhir di sana saat itu. Dan ketika terbangun, sungguh, aku berpikir mungkin mereka ingin melihatku melanjutkan kuliah dan di wisuda. Mengingat sebelum tidur aku sempat berpikir bahwa tidak ada gunanya kuliah. Terlambat.
Tapi mimpi itu seolah nyata… atau mungkin, itu hanya keinginan alam bawah sadarku yang sebenarnya? Aku ingin mereka ada. Di sana. Tapi tetap aku tidak bisa menolak kenyataan bahwa mereka tidak akan mungkin pernah bisa hadir.
Karena semua itu hanya mimpi.

Comments