Skip to main content

Hidup


Bayi itu kecil sekali, terlihat rapuh bagai porselen. Namun dia adalah bayi laki-laki yang sehat. Awalnya kukira malaikat kecil itu tidak akan sanggup bertahan, namun dia lebih hebat daripada yang kami pikirkan.
Rosie memeluk bayi kecil itu di samping tubuhnya. Wajahnya yang awalnya pucat kini terlihat lebih merona begitu menyentuh putranya. Aku tersenyum, mengusap ujung mata yang mulai berair.
“Akan kau beri nama siapa?” Tanyaku pada Rosie. Rosie tersenyum sembari menggeleng lemah, “aku ingin Alex yang memberinya nama.” Jawabnya. Aku menghela napas sebentar.
Alex adalah suami Rosie dan juga kakak sepupuku. Dia adalah seorang tentara, dan sekarang sedang bertugas jauh diperbatasan negara. Alex sudah pergi hampir delapan bulan, dan ia tidak dapat dihubungi sejak sepuluh hari terakhir. Aku sangat menyukai Rosie, sekaligus kagum padanya. Aku sendiri tidak dapat membayangkan masa kehamilan tanpa suamiku kelak, namun Rosie bahkan dapat bertahan walau suaminya tidak menemaninya melewati masa-masa sulit dalam melahirkan.
“Rosie aku—” Dering ponselku memotong apa yang hendak kukatakan. Aku merogoh kantung jasku dan melihat nama Alex di display. “Alex! Kau kemana saja?!” Aku langsung berseru begitu menggeser tombol hijau.
“Demitri, bagaimana keadaan Rosie?” Alex bertanya tanpa menjawab pertanyaanku. Kupikir dia sudah mendapat kabar kelahiran Rosie dari anggota keluarga yang lain. “Baik, dia baik.” Jawabku. Kudengar helaan napas lega dari seberang telpon. “Bayi kalian juga baik.” Lanjutku, tau apa yang akan dia tanyakan selanjutnya.
“Demi, aku ingin melihat anakku. Apa kau membawa Ipadmu?”
“Tentu saja, aku tidak mungkin lupa membawanya. Tapi untuk a—ah! Skype! Bodohnya aku!” Tanpa membuang waktu aku mematikan telponku. Aku lalu mengeluarkan iPadku dari dalam tas. Tak sampai semenit aku melihat panggilan video dari Alex.
“Rosie…” Aku mengarahkan layar ipad itu ke arah Rosie dan bayinya. Terlihat Alex, masih dengan pakaian dinas dan headphone kecil di kepalanya, menangis. Aku tidak pernah melihat Alex menangis seumur hidupku. Sesungguhnya adegan di depanku lebih melankolis dari film sedih manapun yang pernah kulihat.
Beberapa perawat yang masih berada di sekitar kami pun sudah mulai berkaca-kaca. Rosie, meski Alex selalu berjauhan dengannya, sungguh adalah perempuan beruntung. Aku tau tidak ada yang bisa mencintai Rosie sebesar itu selain Alex. Dan sungguh kehadiran bayi kecil itu adalah hal yang paling pantas untuk mereka berdua.

Comments