“Setiap pacar orang punya chance buat jadi pacar kita, jangan lupa, pacar lo yg sekarang juga dulu pacar orang.” Kataku sambil tersenyum santai.
“Perkataan lo bukan meminta gue buat jadi pacar lo secara tidak langsung kan?” Dia membalas. Aku memutar bola mata seolah itu adalah perkataan yang paling konyol yang pernah kudengar, “ Not even my wildest dream. Pemikiran gila apa itu…” bantahku malas. Dia tersenyum sinis.
“Setiap orang punya changes buat jadi pacar kita’, lo ga lagi kodein gue kan?”
Aku mendengus kesal, “Lo ngerasa itu kode? Gua yg nulis aja ga kepikiran sampe sana.”
“Masa?” Tanyanya skeptis.
“Whatever.” Aku malas berdebat dengannya. Dia terlihat ingin melanjutkan, namun aku memilih diam sambil bertopang dagu. Kubiarkan dia sibuk sendiri dengan ponselnya. Aku mencoba cuek walau sesekali mencuri pandang, lalu menghela napas pelan tidak ketara.
Kalau saja dia tau, bahwa kemarin-kemarin yang terasa seperti sudah lama sekali, aku pernah memikirkan hal itu. Aku tidak menyukainya, mungkin tertarik, tapi… entahlah. Aku tidak mengerti bagaimana perasaanku yang sekarang. Tapi seandainya jika memang benar aku menyukai si bodoh ini, kurasa lebih baik aku membenturkan kepala ke dinding agar terkena amnesia.
Comments
Post a Comment