Skip to main content

Memberi Hiburan

“Sini, sini.” Dia menepuk pelan tempat kosong di sebelahnya, aku menurut dalam diam, namun tidak langsung duduk. Aku berdiri tepat di depannya.
“Ngapain?” Tanyaku.
“Tangan mana tangan?” Tanyanya lagi. “Tangan apa?” “Tanganmu sini, terserah yang mana.” Aku mengulurkan tangan kananku dengan tapak membuka ke atas. Dia memegang tanganku, lalu menyentakku hingga terpaksa duduk di sebelahnya. Setelah duduk, dia menautkan jari-jari kami dengan cepat. Tangan kirinya yang besar menenggelamkan tangan kananku dalam genggamannya. Berapa kalipun mencoba untuk melepaskan tautan itu, aku takkan berhasil.
“Kau ngapain sih?!”
Dia tidak menjawab pertanyaanku, justru memaksa kepalaku bersandar pada bahunya dengan tangannya yg bebas. Aku menghela napas, tidak ada gunanya memberontak pergi, jadi kuputuskan untuk menurut.
“Tidurlah.” Katanya singkat. “Hah?” “Tidur. Matamu bengkak. Pejamkan saja matamu.”
Aku menghela napas. Disuruh duduk ya duduk. Disuruh pejamkan mata ya pejamkan saja matamu. Aku tau dia pasti mengulum senyum, menyenangkan baginya melihatku begitu menurut tanpa syarat.
“Tanganmu kecil, lenganmu kurus. Kalau kau sering tidak tidur dan jarang makan, kau bisa kujadikan kerangka layangan.” Kurasakan tanganku yang di genggam olehnya sedikit terangkat. Aku hanya menggumam tak jelas menanggapi ocehan anehnya, “aku sedang menghipnotismu.” Katanya lagi, “semua masalah yang ada di kepalamu, akan hilang dan berpindah padaku nanti setelah kau bangun.” Lanjutnya lagi.
“Omong kosong.”
“Serius tau.” Aku lalu merasakan telunjuknya mengetuk pelan kepalaku, “masalah yang ada di sini, akan mengalir melewati ini,” telunjuknya menyusuri lengan kananku, “lalu merambat melewati lenganku dan menuju ke kepalaku. Ini bukan genggaman tangan biasa lho.”
“Sok romantis.”
Ia mendengus pelan, terdengar seperti menahan tawa, “kau pikir ini romantis? Aku gak tau kalau kau semelankolis itu.”
“Ish kau ini!” Aku terduduk tegak dan menatapnya tajam dengan wajah yang terasa panas, namun secepat aku terduduk secepat itu pula tangannya kembali memaksa kepalaku bersandar. Kali ini ditambah tangannya yang menutupi kedua mataku.
“Tidur saja. Tadi kau udah nguap lebar gitu.”
“Hm.” “Apa?” “Tukang sok ngatur.”
Dia mendengus lagi. Mungkin aku memang kurang tidur beberapa hari ini, sehingga tanpa kukehendaki mataku benar-benar berat. Aku menguap lagi.
“Oyasumi.” Katanya. “Oyasumi.” Balasku dan kemudian aku benar-benar terlelap.

Comments