Skip to main content

Sedikit tentang Papa

Laki laki yang utama di hatiku masih papaku.
Dua belas tahun aku hidup bersama papa. Dan dia sukses jadi idolaku. Tapi hey, siapa sih yang tidak mengidolakan ayahnya sendiri?
Oke, mungkin ada banyak di luar sana, tapi salah satunya bukan aku.
Papa orangnya baik, ramah, suka bersenda gurau dan baik banget! Dia selalu mengabulkan apapun yang aku minta. Dan dia jarang sekali marah. Jarang bukan berarti tidak pernah ya. Aku ingat sekali, dulu aku sangat nakal. Naik sepeda jauh dari rumah, ke tempat temanku yang merupakan anak teman papa. Rumahnya jauh banget buat anak umur lima tahun. Dan saat itu bahkan aku menyeberang jalan, simpang empat yang padat kendaraan.
Bayangkan saja, jalanan ramai tanpa lampu lalu lintas, dan anak berumur lima tahun dengan sepeda roda empat berjalan melaluinya.
Jangan tanya betapa marahnya papa waktu itu. Ia langsung membawaku pulang dengan motornya. Sepedaku ditinggalkan di rumah teman papa itu. Dan begitu sampai di rumah, tubuhku langsung dihujani lecutan ikat pinggang.
Wew… Aku masih ingat betapa sakitnya, dan betapa kuatnya aku menangis. Ditambah lagi, papa menghukumku di dalam kamar terkunci, jadi aku gak bisa berharap ada pertolongan.
Tapi begitulah anak kecil. Meski malamnya aku ngambek, bilang benci papa, begitu dibawa jalan jalan dan di bawa ke mc donald, aku langsung nyengir lagi.
Lucunya, seisi rumah tak ada yang percaya kalau aku menyeberang sendirian di jalanan itu. Mungkin jalanan itu memang tidak cocok untuk anak umur lima tahun.
Papa jago segalanya di mataku. Dia suka ngajakin jalan jalan. Sebentar saja sudah sampai di Sumbar, sebentar udah di Sumut. Pokoknya, papa selalu bisa ngajak jalan jalan. Papa bisa masak, perbaiki alat alat yang rusak (yang membuatku terbiasa melihat alat alat elektronika bertebaran), dan dia selalu punya sesuatu untukku ketika pulang sekolah.
Pernah makan bolu wortel? Jus rambutan? Es krim buatan rumah? Bolu pisang? Woh, papa selalu punya snack buatannya sendiri untukku. Dia adalah satu satunya orang yang tidak pernah lupa kapan aku ulang tahun. Ketika aku pulang sekolah, pasti selalu ada kue ulang tahun buatannya di atas meja makan.
Mama kerja kantoran, di rumbai. Tapi papa kerjaannya gak jelas. Aku terlalu kecil untuk paham kerjaannya tentang apa. Tapi dia suka sekali ke luar kota. Sesekali dia pergi sampai ke Malaysia dan Singapura. Dan setiap habis dari luar kota, dia pasti bawa oleh oleh. Hehehe…
Papa baik sama semua orang. Dia punya banyak teman. Bahkan teman temanku pun suka sama papa. Gimana bisa gak suka coba, papa bahkan sering kasih uang jajan ke teman temanku juga. Ckckck…
Tapi anehnya sampai sekarang, yang kuingat tentang hukuman papa padaku, hanya soal lecutan ikat pinggang itu saja. Selebihnya papa tidak pernah marah, atau pernah tapi aku tidak ingat? Entahlah.
Keluargaku bilang aku mirip papa, sifat juga, tapi ada beberapa yang enggak. Kalau aku suka dibilang ketus, cerewet, suka membantah, papa bisa dibilang lebih kalem. Kalau dia gak suka sama sesuatu, dia akan biarin lawan bicaranya selesai bicara, baru dia ngomong. Dan kalau dia dimarahi, dia hanya akan diam dan langsung kabur tanpa mengatakan apa apa.
Aku tidak pernah liat papa bertengkar dengan mama. Maksudku, yang mereka saling berteriak satu sama lain. Yang aku tau, sekesal dan semarah apapun papa pada mama, dia hanya akan diam saja. Ngambeknya lucu. Dia gak akan ngajak mama bicara, sampai gak mau makan masakan mama. Dia lebih milih aku masakin mie goreng gagal. Wkwkwk. Itu saat aku kelas lima. Tapi toh papa tetep ngabisin mie goreng gagal yang kubuat.
Papa suka film tom and jerry, donal bebek, dan kartun disney lainnya. Ketika film film itu muncul di televisi, kami bakal nonton bareng bareng dan tertawa bareng bareng. Kami juga suka film Jacky Chan. Kalau sudah film dia, papa bakal nonton terus, gak bakal ngapa ngapain.
Tapi papa suka drama korea Jewel in the Palace. Itu film Korea soal masak masak. Papa suka banget masak, jadi kalau film itu mulai, aku yang lagi nonton pun terpaksa menyingkir. Untung saja tv di rumah ada dua. Tapi aku lebih suka nonton di ruang kerja papa, seberantakan apapun ruangannya. Jadi meski filmnya korea, aku ikut nonton, dan malah ikutan suka. Hahaha.
Rasanya aku tidak menemukan sesuatu yang buruk soal papaku.
Aku ingin sekali membanggakan papa. Aku ingat saat dia sakit, lalu dibawa ke rumah sakit di Payakumbuh. Sebulan aku tidak bertemu dengannya. Lalu mama datang ke Pekanbaru. Aku saat itu tidak tau apa apa, dan kalau tidak salah ingat, aku berbuat sebuah kesalahan. Kesalahan kecil.
Tapi kesalahan kecil itu berefek besar ke mama. Mama marah marah sampai nangis. Aku bahkan masih ingat jelas apa yang dia bilang.
“Kau jangan mada mada disini, kau tidak tau keadaan papa kau disana gimana? Dia sakit tau kau?!”
Saat itu aku kelas satu SMP.
Aku bahkan masih ingat ekspresi mama saat mengatakannya.
Saat itu otakku entah kenapa gak tau harus berpikir apa. Yang aku tau, aku harus diam.
Gak lama setelah hari itu, mama balik ke Payakumbuh. Dia cuma ngasih aku duit buat jajan. No mama, dan aku harus nyuci pakaianku sendiri. Dan pakaian adikku. Aku tidak ingat aku masih main main sama teman sebayaku saat itu apa enggak.
Gak lama, aku dan keluarga yang lain ngejenguk papa di Payakumbuh. Dari Pekanbaru kami langsung cabut ke rumah sakit. Yang aku ingat, aku yang jalan paling depan, dan entah kenapa aku bisa melangkah pasti ke kamar inap papa, padahal aku belum pernah ke rumah sakit itu.
Tempat tidurnya ada di samping jendela, dia lagi tertidur dengan setengah badan bersandar pada bantal. Dia terlihat kurus sekali. Seperti bukan papaku, tapi itu papa.
Aku dua belas tahun. Dan aku gak bisa nangis, aku berusaha buat ketawa dan menganggap bahwa gak ada yang berubah. Itu tetap papaku, bagaimanapun fisiknya. Dan ketika aku melihat anggota keluarga yang lain, mereka gak ada yang melihat ke papa. Semuanya melihat ke arah lain, mendongak ke atas dengan mata merah.
Tidak ada yang bicara selain aku, yang dengan cueknya malah ngambil anggur yang ada di samping tempat tidur. Aku masih ingat papa ketawa dan nyuruh aku makan apel, karena dia tau aku suka banget sama apel. Tapi aku bilang aku bosan sama apel, dan akhirnya aku menghabiskan semua anggur yang harusnya dimakan sama papa.
Perjalanan pulang ke Pekanbaru benar benar penuh keheningan. Itu perjalanan paling gak asik diantara perjalanan perjalananku yang lain.
Aku gak ingat hal lainnya. Yang aku ingat, sebulan kemudian, papa sama mama datang ke Pekanbaru tanpa pemberitahuan. Papa keluar dari mobil travel menggunakan kruk dari kayu. Badannya kurus sekali, tapi dia tetap tersenyum. Dia duduk di sofa ruang tamu, cuma mengatakan pengen pulang. Mama bilang, papa ngotot pulang meski gak dibolehin dokter. Mama bilang, papa pengen bareng anak anaknya di lebaran haji tahun itu.
Alasan itu yang bikin aku nangis diam diam.
Papa cuma bisa berbaring di kamar. Sesekali aku melihatnya, menanyakan, pengen makan apa? Minum apa? Pengen pipis atau enggak?
Dia 40 tahun, dan terlihat seperti kakek kakek umur 70 tahun. Padahal dulu papa ganteng, gagah, berkumis tebal tapi rapi. Hahaha… Hal terakhir yang aku ingat, aku menunjukkan nilai raporku pada papa. Dan dia cuma bilang, “nilai segitu gak bagus. Kalau juara baru bagus.”
Suaranya lirih sekali, terputus putus, sampai aku harus mendekatkan telingaku ke mulutnya agar aku mendengar lebih jelas.
Ah, ada hal terakhir lain yang aku ingat, saat papa di rawar di rumah sakit di Pekanbaru. Papa mau aku menginap di rumah sakit bersamanya. Tapi aku ngotot tidak mau dengan berbagai alasan. Aslinya aku takut sih. Dan tidur di rumah sakit itu gak enak.
Tapi itu adalah penyesalan seumur hidup. Karena setelahnya aku gak pernah bisa mengabulkan apapun lagi yang dia minta.
Papa meninggal. Aku gak ada di sampingnya saat itu. Tapi bahkan sebelum berita itu sampai kepadaku, aku sudah tau kalau papa meninggal. Anggap ini insting seorang anak, tapi saat itu aku sedang main di halaman belakang rumah, tiba tiba saja gerimis, padahal sedang terik, tapi aku otomatis berpikir papa udah gak ada.
Ketika tante menelepon dan bilang bahwa apa yang kupikirkan benar, aku tidak kaget. Aku bahkan tidak menangis sedikitpun. Yah, aku memangis ketika ada sendiri di kamar, tapi aku tidak menangis di depan orang orang.
Aku ingat apa yang mereka bilang, “anaknya tegar ya. Masih kecil sih, jadi belum tau apa apa.”
Mereka salah. Aku tau apa yang terjadi. Dan aku sudah tau, begitu papaku meninggal, aku harus bersiap dengan segala kemungkinan terburuk.
Dan memang, hidupku lebih berat ketika papa gak ada.
Ah, menyebalkan saat diingat. Pepatah itu benar, kau akan tau siapa yang benar benar peduli ketika kau sedang kesulitan.
Hum. Yasudahlah.

Comments