Skip to main content

Surat Kedua; Maaf yang Mungkin Tidak Berarti Apa-Apa

Hey kamu, surat ini hanya untukmu. Sedang apa kamu saat ini? Sudah makan? Jangan malas makan sepertiku, nanti kamu sakit. Rasanya sungguh tidak enak, belum lagi jikalau harus meminum obat yang jelas-jelas pahit.
Maafkan aku. Mungkin kalimat itu tidak berarti apa-apa. Aku tau apa yang telah kulakukan sebelumnya itu salah. Menghilang begitu saja, tidak menerima telpon, tidak memberi kabar… aku tau tindakanku itu keterlaluan. Aku salah. Untuk sekarang, aku cuma bisa minta maaf.
Mungkin kedengarannya seperti tidak tulus ya? Cuma permintaan maaf biasa saja. Tapi sungguh, aku benar-benar menyesal. Rasanya sedih sekali, mau menangis, karena kamu jadi seperti ini. Maaf karena membuatmu merasa kecewa. Maaf karena membuatmu merasa kesal, merasa marah.
Rasanya aneh sekali ketika kamu membalas chat pendek pendek. Rasanya menyeramkan. Percayalah, bertengkar denganmu adalah hal terakhir yang aku inginkan. Kalau saja bisa, mungkin aku akan langsung mendatangimu dan mengucapkan maaf. Tapi kurasa aku terlalu takut, bahkan meneleponmu saja aku tidak berani.
Aku sangat merindukanmu. Seperti dulu, saat kita masih sering telponan, atau bahkan video call… rasanya seperti sudah lama sekali berlalu. Padahal kita sama sama tahu, mungkin itu baru tiga bulan yang lalu. Kadang, bukan aku tidak mau menelepon duluan, hanya saja aku tidak pernah tau waktu yang tepat. Kamu kerja, kamu sibuk, dan aku tidak mau mengganggu waktumu. Kalau kamu, kamu bisa meneleponku kapan saja. Karena waktuku tidak penting.
Mau meneleponmu saat sepulang kerja juga, aku takut mengganggu istirahatmu. Belakangan ini kamu sering pulang larut, lembur, banyak kerjaan… itu semua pasti melelahkan. Karena itu, aku tidak pernah tau kapan harus meneleponmu. Bukan karena aku tidak ingin… tapi karena aku tidak tau kapan harus melakukannya.
Kapanpun kamu membaca ini, aku benar-benar minta maaf. Aku tau yang kulakukan salah, dan mungkin aku akan melakukan itu lagi entah kapan di masa depan. Tidak apa kalau mau marah, tapi jangan sampai kamu jadi tidak makan hanya karena kesal padaku. Seperti yang pernah kukatakan dulu, jangan berharap banyak padaku, aku tidak ingin ketika kamu tau banyak kekuranganku, kamu akan kecewa lebih dalam.
Maaf ya.

Comments