Yo, kecelakaan itu merenggutmu dariku. Seperti kecelakaan yg juga merenggut Bg Anton dan kak Rama. Seperti bagaimana aku melihatmu terakhir kali di ICU waktu itu. Seperti bagaimana perasaan yg mengalir melalui genggaman tangan kita. Seperti saat itu, saat ini aku rapuh. Kemarin aku hampir mencelakakan diriku sendiri. Entah apa yang tengah kupikirkan, aku tidak melihat lubang besar di jalanan itu Yo. Aku hampir mencelakakan diriku seperti kamu mencelakaan dirimu saat itu.
Sampai sekarang gak ada yg tau Yo, bagaimana kecelakaan itu menimpamu. Sampai sekarang kami gak tau apakah saat itu kamu mengalami kecelakaan itu sendirian atau bersama orang lain. Karena saat itu orang-orang hanya menemukanmu tergeletak di jalanan itu sendirian. Penuh darah. Motormu berjarak hampir sepuluh meter jauhnya dari tubuhmu sendiri. Tapi tidak ada lubang di jalanan Yo. Tidak ada tanda-tanda alam yg dapat membuatmu terjatuh.
Kita punya kebiasaan yg sama Yo, tidak bisa pelan saat berkendara, terlebih di jalanan sepi dan mulus. Namun meski kita sama-sama suka ngebut, kau tidak akan memacu motor dengan kencang jika memboncengku, atau orang-orang lain. Karena kau bilang, kau bertanggung jawab atas nyawa orang yg ada di boncenganmu, bukankah begitu?
Aku sudah jarang ngebut Yo, tapi sesekali aku ingin memacu kendaraan lebih cepat. Jujur saja aku masih tidak rela. Terkadang masih terbayang, bagaimana kamu terjatuh waktu itu, apa yg membuatmu terjatuh waktu itu. Aku penasaran Yo, tapi kamu tidak pernah bangun lagi sejak kami menemukanmu terjatuh. Yo, saat aku hampir celaka kemarin, aku ingat bahwa aku harus hidup untuk bagianmu juga. Aku akan mewakilkanmu melihat teman² kita, melihat hidup yg baik. Maaf karena aku hampir membuat diriku celaka. Aku harus bertahan kan Yo, karena adikku hanya punya aku. Kalau aku pergi, dia akan sangat hancur.
Kemarin aku membaca ulang lagi percakapan-percakapan kita di facebook, dan aku merindukanmu. Mampir ke mimpiku Yo, temui aku.
Comments
Post a Comment