Kenangan saat Hujan June 08, 2012 Saat ini hujan. Padahal tadi pagi cuaca benar-benar cerah. Tapi beberapa saat setelah bel pulang sekolah berbunyi, hujan langsung turun dengan derasnya. Seolah tengah menjebakku untuk tetap tinggal. Menjebakmu juga. Ya, kamu. Tadinya banyak teman-teman kita yang ikut menunggu hujan berhenti, namun sepertinya mereka tidak sesabar kita. Satu persatu dari mereka mulai menghidupkan mesin motor dan bergegas menerobos hujan. Aku melihatmu di sana, di parkiran, tengah melambai pada temanmu yang sekarang sudah menghilang melewati gerbang sekolah. Setelahnya, kulihat kamu membentuk kelompok dengan teman-temanmu yang tersisa, bercerita dan tertawa-tawa bersama. Tak ingin ketahuan karena tengah memperhatikanmu, aku mulai mengalihkan pandangan pada langit kelabu yang masih tetap menurunkan tetes-tetes kehidupannya dengan brutal. Boleh tidak aku meminta agar hujan turun lebih lama? Aku masih ingin melihat sosokmu hari ini. Karena jika kita keluar dari gerbang, aku tidak akan dapat melihatmu hingga sekolah kembali dimulai keesokan harinya. Sesekali, kulihat kembali sosokmu di sana. Kamu masih bersama teman-temanmu, tertawa, namun jumlah mereka semakin lama semakin berkurang. Akhirnya teman-temanmu mulai meninggalkanmu sendirian. Tidak benar-benar sendiri, karena masih ada beberapa murid lain di sekitarmu, hanya saja kamu tidak mengenal mereka. Aku juga sih. Sepertinya kamu menyadari keberadaanku yang tengah memperhatikanmu, karena kini kita tengah bertatapan. Aku mencoba tersenyum senormal mungkin, dan kulihat kamu juga melakukan hal yang sama. Hujan ternyata tidak membuat senyummu tampak buram di mataku. Aku mematri senyum itu baik-baik dalam otakku, seakan takut tidak dapat melihatnya lagi. Setelah sekian lama, akhirnya hujan mulai berhenti. Aku dapat melihat senyummu melebar. Dengan semangat, kamu mulai ikut mengeluarkan motormu dari parkiran, seperti yang lainnya. Sepertinya waktuku bersamamu hari ini telah usai. Aku berterima kasih pada hujan, karena telah memberikan waktu lebih banyak untuk melihatmu. Akhirnya kulihat dirimu menuju gerbang, tersenyum padaku sekilas dan menghilang. Sekilas senyuman, dan itu cukup untukku. Tak ada lagi yang dapat menahanku lebih lama di sekolah selain dirimu, jadi aku mulai berjalan ke parkiran dan membuka jok motorku, melepaskan helm yang ku gantung di bawahnya. Sebelum aku menutup jok, kulihat jas hujan yang tersimpan rapi di bagasi motorku. Kukira, sebaiknya besok-besok aku meninggalkan benda itu di rumah. Karena aku pasti akan lebih memilih menunggu hujan bersamamu─walau tidak di sampingmu. Share Get link Facebook X Pinterest Email Other Apps Labels cerpen facebook notes half truth kenangan Share Get link Facebook X Pinterest Email Other Apps Comments
Comments
Post a Comment