Aku merasakan cahaya matahari yang masuk menerobos jendela, membelai kulit wajahku dengan lembut. Hangat. Tersenyum, aku meraba dinding dan berjalan menuju tempat tidurku. Aku harus berjalan sangat pelan agar tidak menyakiti Niko, anjing kecil yang baru-baru ini ikut terkurung bersamaku.
“Ini sarapanmu.” Suara seorang pemuda yang sudah sangat kukenal bergema melewati gendang telingaku. Aku tersenyum.
“Terimakasih Niel.” Ucapku tulus. Dapat kurasakan Niel ikut tersenyum bersamaku.
“Apa yang Anda lihat di balik jendela itu Nona?” Tanya Niel lembut. Kurasakan belaian lembut tangannya di pipiku. Hangat. Rasanya sehangat matahari di luar sana. Niko menggonggong keras.
“Tidak apa-apa Niko,” aku bergumam pada anjing kecil itu. Niko berhenti menggonggong seolah mengerti perkataanku. Aku merasakan kecupan hangat di dahiku.
"Kau semakin dekat dengan anjing kecil itu," Niel bergumam di dekat telingaku.
"Mungkin karena kami sama?" Aku membalas singkat.
"Aku akan mencari cara agar Anda bisa keluar dari sini." Niel berkata takjim. Aku kembali tersenyum dan mengangguk. Tanganku meraba-raba udara kosong, mencari wajah Niel. Begitu mendapatkannya, aku tersenyum. Aku membelai wajah itu penuh kelembutan, dapat kurasakan Niel memejamkan matanya.
"Apa yang ada diluar sana Niel?" Aku menggumam. Niel berdeham.
"Sesuatu yang indah, suatu saat aku akan menunjukkannya pada Anda." Niel kembali berkata, "aku berjanji."
"Aku tau." Ujarku pelan.
•••
Aku menutup pintu ruangan besar itu dan bersandar di baliknya. Masih dapat kurasakan belaian lembut gadis kecil berusia sepuluh tahun itu di wajahku. Aku tersenyum sembari memejamkan mata, mencoba mengenang momen itu selama mungkin.
"Bagaimana keadaan gadis itu?" Tanya seorang Pria paruh baya yang entah sejak kapan berdiri di depanku. Aku menelan ludah gugup.
"Ia baik-baik saja, Tuan." Ujarku sembari menundukkan kepalaku. Pria itu mengangguk lalu pergi begitu saja. Aku kembali mendesah, bagaimana mungkin pria sedingin itu adalah ayah dari gadis lembut di dalam sana? Hidup ini benar-benar penuh ironi.
"Apa yang kau lakukan di sana? Cepat pergi ke dapur! Banyak yang harus kau kerjakan di sana!" Kali ini seorang wanita paruh baya membentakku dari ujung koridor. Kedua tangannya yang kurus tampak penuh memegang cucian.
"Yes mom," ujarku. Wanita itu lalu melangkah pergi. Aku mendesah. Seandainya aku bukan pelayan...
•••
"Apa yang sedang Anda lakukan?" Aku bertanya setengah histeris begitu memasuki kamar gadis itu, Nona-ku. Ia tengah berdiri pada pinggiran jendela lebar tempat biasanya ia menikmati cahaya matahari pagi. Anjing kecil yang ia beri nama Niko pun ikut berdiri di sampingnya, seakan tidak menyadari bahaya apa yang akan terjadi jika ia sampai jatuh di baliknya. Aku menangkap tubuh rapuh itu dan memeluknya erat. Ia balas memelukku.
"Aku hanya bermain." Ia menjawab singkat sembari tersenyum manis. Selalu manis. Ia menatapku dengan tatapannya yang menghipnotis. Mata bening itu mengerjab sesaat, seolah benar-benar dapat berfungsi dengan baik. Aku membelai pipinya yang lembut, memandangi wajah mungilnya yang cantik dan penuh kepolosan.
"Jangan pernah bermain di sana, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Anda." Ujarku tegas. Ia tersenyum kecil dan mengangguk. Aku kembali memeluknya. Sungguh, aku sangat takut kehilangan gadis ini.
•••
Aku merasakan pelukan hangat Niel di tubuhku. Benar-benar hangat dan menenangkan. Aku pun dapat mendengar irama detak jantungnya yang tidak teratur. Merdu. Lalu kurasakan pelukannya mengendur.
"Jangan pernah bermain di sana, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Anda." Ia berkata penuh kekhawatiran. Aku tersenyum dan mengangguk, Niel kembali memelukku. Aku berusaha membalas pelukannya dengan lengan kecilku. Hangat. Nyaman.
"Niel?" Aku memanggil namanya. Ia melepaskan pelukannya dan membelai rambutku.
"Ada sesuatu yang mengganggumu Nona?" Ia kembali bertanya lembut. Aku menggeleng pelan.
"Aku hanya ingin kau selalu bersamaku." Ujarku. Ia mengecup pipiku.
"Pasti." Ia menjawab yakin. Aku meraba wajahnya dengan kedua tanganku. Menghapalnya melalui pori-pori kulitku.
Aku kembali tersenyum. Tak sabar menanti cahaya matahari esok pagi.
•••

Comments
Post a Comment