Seorang teman bercerita kepadaku. Baru saja, beberapa menit lalu ia mengakhiri pembicaraan yang kami lakukan via ponsel. Ia menyukai seseorang, katanya. Seorang pria yang menurutnya mampu membuatnya berpikir jauh akan masa depan mereka berdua.
Omong-omong, temanku ini adalah jenis perempuan yang sulit sekali jatuh cinta.
Sejauh ia bercerita sejak aku mengangkat teleponnya, tidak ada yang salah. Semuanya normal menurutku. Suka pada lawan jenis itu normal, bukankah begitu? Namun keluhan selanjutnya lah yang membuatku bingung harus mengatakan apa.
Sungguh, aku tidak ingin menyinggung sara atau apapun itu yang melanggar kode etik sebuah cerita. Tapi memang, ini sedikit berhubungan sih. Dia bilang, cowok itu dari agama yang berbeda.
Sejujurnya, aku tidak pernah mengalami hal itu. Masalah percintaanku paling hanya sebatas jarak. Namun masalah agama? Aku tidak pernah berharap lebih jauh setelah mengetahui, jika agama orang yang kusuka tidak sejalan denganku.
Jadi pada akhirnya, aku hanya mengatakan padanya untuk… menjauh. Kau akan semakin menyukai seseorang jika tetap berhubungan, bukankah begitu? Jadi mengulur jarak secara perlahan mungkin tepat. Kalau aku sih, selalu berhasil menggunakan cara itu. Walau tidak akan pernah lupa, tapi perasaan itu bisa membatu.
Membatu, bukan membeku. Karena kalau membeku, ada kemungkinan suatu saat akan mencair.
Dan yah… ia berkata akan berusaha. Dan itu adalah permbicaraan terakhir kami hari ini.
Apa yang kukatakan sudah benar?
Omong-omong, temanku ini adalah jenis perempuan yang sulit sekali jatuh cinta.
Sejauh ia bercerita sejak aku mengangkat teleponnya, tidak ada yang salah. Semuanya normal menurutku. Suka pada lawan jenis itu normal, bukankah begitu? Namun keluhan selanjutnya lah yang membuatku bingung harus mengatakan apa.
Sungguh, aku tidak ingin menyinggung sara atau apapun itu yang melanggar kode etik sebuah cerita. Tapi memang, ini sedikit berhubungan sih. Dia bilang, cowok itu dari agama yang berbeda.
Sejujurnya, aku tidak pernah mengalami hal itu. Masalah percintaanku paling hanya sebatas jarak. Namun masalah agama? Aku tidak pernah berharap lebih jauh setelah mengetahui, jika agama orang yang kusuka tidak sejalan denganku.
Jadi pada akhirnya, aku hanya mengatakan padanya untuk… menjauh. Kau akan semakin menyukai seseorang jika tetap berhubungan, bukankah begitu? Jadi mengulur jarak secara perlahan mungkin tepat. Kalau aku sih, selalu berhasil menggunakan cara itu. Walau tidak akan pernah lupa, tapi perasaan itu bisa membatu.
Membatu, bukan membeku. Karena kalau membeku, ada kemungkinan suatu saat akan mencair.
Dan yah… ia berkata akan berusaha. Dan itu adalah permbicaraan terakhir kami hari ini.
Apa yang kukatakan sudah benar?
Comments
Post a Comment