Halo Eva. Err... sebenarnya aku ragu memanggilmu dengan nama itu, karena yah, banyak orang memanggilmu dengan nama yang berbeda. Er, maaf kalau kamu tidak suka (sebenarnya walau kamu memintaku untuk memanggil dengan nama lainpun, aku tidak akan mau. Haha.).
Duh, pembukaan yang panjang.
Baiklah, omong-omong, ini suratku yang pertama untukmu ya! Maaf kalau bahasaku agak-agak nyeleneh, aku tidak terbiasa (kalau mau dibilang tidak pernah) menulis surat. Kamu adalah orang pertama yang kukirimi sejak aku melakukannya terakhir kali dulu. Entah berapa tahun lamanya itu berlalu.
Aku ingin membahas suratmu untukku, tentang 'Perihal Sebuah Keyakinan'. Jujur saja, suratmu itu membuatku merasa sedikit tersentil (aku tidak akan menyalahkanmu, sungguh!). Isi suratmu saat itu mengingatkanku akan perkataan seseorang, persis sama, dengan kalimat yang berbeda. Dia bilang, "jangan terlalu berlumpur dengan masalahmu sendiri. Kita tidak tau siapa yang tenggelam lebih dalam."
Kalimatnya memang agak-agak aneh, kuyakin keningmu akan sedikit berkedut membacanya. Maklum saja, orang yang mengatakannya memang aneh (aku tidak menghinamu Gik, sungguh!). Namun begitu, inti yang ingin dia sampaikan tetap saja membuatku harus berpikir dua kali.
Baiklah, omong-omong, ini suratku yang pertama untukmu ya! Maaf kalau bahasaku agak-agak nyeleneh, aku tidak terbiasa (kalau mau dibilang tidak pernah) menulis surat. Kamu adalah orang pertama yang kukirimi sejak aku melakukannya terakhir kali dulu. Entah berapa tahun lamanya itu berlalu.
Aku ingin membahas suratmu untukku, tentang 'Perihal Sebuah Keyakinan'. Jujur saja, suratmu itu membuatku merasa sedikit tersentil (aku tidak akan menyalahkanmu, sungguh!). Isi suratmu saat itu mengingatkanku akan perkataan seseorang, persis sama, dengan kalimat yang berbeda. Dia bilang, "jangan terlalu berlumpur dengan masalahmu sendiri. Kita tidak tau siapa yang tenggelam lebih dalam."
Kalimatnya memang agak-agak aneh, kuyakin keningmu akan sedikit berkedut membacanya. Maklum saja, orang yang mengatakannya memang aneh (aku tidak menghinamu Gik, sungguh!). Namun begitu, inti yang ingin dia sampaikan tetap saja membuatku harus berpikir dua kali.
Dan itulah yang aku lakukan. Jadi mengenai pertanyaan di suratmu waktu itu, "Jika kamu diberi satu kelonggaran untuk mememilih nasib. Nasib siapakah yang ingin kamu pilih?" Aku akan menjawab, "lebih baik di undi saja. Biarkan aku meyakini hasil undian itu adalah apa yang terbaik untukku."
Jika membiacarakan tentang hidup, nasib, tidak akan ada habisnya Va. Dulu memang aku selalu berpikir, 'kenapa mereka bisa bernasib seperti itu? Kenapa aku bernasib seperti ini?' Tapi seiring berjalannya waktu, aku menemukan jawabannya. Nikmati saja, jangan diperumit. Aku pernah membaca sebuah quote yang bagus yang entah dimana saat itu aku mendapatkannya;
"Hidup itu, jangan melihat ke atas, pegel. Jangan lihat kiri-kanan, nanti pusing. Jangan lihat kebelakang, entar nabrak. Cukup lihat ke depan, fokus."
Hehe, aneh ya? Ah, sudahlah, yang penting aku suka #plak
Salam, Demdem nan unyu kece badai.
Ps : Tenang saja, aku tidak akan menjadi Atha kedua. Aku tidak ingin membuatmu menangisiku hingga matamu bengkak :))
Comments
Post a Comment