Skip to main content

Seandainya

Hai Ma, hai Pa, bagaimana kabar kalian disana?
Aku merindukan kalian, sangat-sangat-sangat merindukan kalian. Ketika waktu terus berjalan ke depan, aku takut kalau aku semakin meninggalkan kalian di belakang.
Aku takut jika aku mulai melupakan wajah kalian. Aku takut jika aku mulai melupakan suara kalian. Aku takut jika aku mulai melupakan kebersamaan kita ketika kalian masih ada di sini bersamaku.
Aku tidak bisa mengatakan bahwa hidupku saat ini baik-baik saja. Aku membutuhkan kalian ada di dekatku. Aku rapuh, teramat rapuh hingga aku takut suatu saat aku memilih untuk menyerah. Setiap saat ketika kerapuhan itu benar-benar mencekik leherku, aku tidak bisa berhenti untuk tidak berpikir bahwa hidup teramat tidak adil untukku.
Mengapa kalian pergi begitu cepat? Mengapa aku tidak bisa hidup seperti teman-temanku? Mengapa aku harus menjalani kehidupan seperti ini?
Namun aku sadar bahwa aku tidak bisa terus-terusan berpikir seperti itu. Aku tau bahwa aku spesial. Tuhan menjadikan aku berbeda agar aku istimewa. Aku boleh iri pada kehidupan teman-temanku yang kurasa lebih baik daripada aku. Namun aku tidak tau, betapa teman-temanku bisa bangga ketika aku mengatakan dengan tegar bahwa aku baik-baik saja. Karena ini semua terjadi padaku, bukan pada mereka. Mungkin Tuhan menganggap aku bisa sedangkan mereka tidak. Karena itu aku merasa lebih baik.
Tapi sesekali tentu aku ingin berandai-andai.
Seandainya kalian berada di sini, mungkin aku sedang menyusun skripsi di jurusan yang aku inginkan. Mungkin aku tidak akan bebas pergi kemana saja karena Papa yang terlalu cemas. Mungkin kita bisa pergi setiap akhir pekan untuk berjalan-jalan menghabiskan waktu bersama. Mungkin kita bisa saling berdiskusi tentang masa depan. Mungkin kalian sudah menceramahi aku soal tujuan hidup dan pendamping hidup.
Entahlah, semua hanya kemungkinan.
Sedikit banyak aku ingin merasakan dikhawatirkan oleh seorang ayah. Aku ingin kembali merasakan bagaimana rasanya masakan Mama. Aku juga ingin kembali bertengkar memperebutkan remote tv dengan adikku.
Aku takut aku mulai lupa bagaimana rasanya berada di tengah-tengah keluarga normal. Tanpa ada canggung, tanpa ada beban.
Ma, Pa, aku merindukan kalian.

Comments