Pasti pernah dengar, hujan itu mengandung 1% air dan 99% kenangan.
Aku punya banyak sekali kenangan tentang hujan. Hujan adalah kejadian yang paling aku sukai. Hujan panas, hujan petir, hujan gerimis dan jenis-jenis hujan lainnya. Aku suka mencium bau tanah ketika hujan turun, dan kurasa semua orang juga menyukainya.
Kenangan tentang hujan yang kumiliki tidak semuanya kenangan manis. Ada juga kenangan pahit tentang hujan.
Aku mendengar berita kematian mamaku ketika hujan beserta gemuruh petir tengah mengamuk di luar rumah. Itu sekitar pukul empat sore. Hampir tiga tahun yang lalu, tapi aku masih mengingat semuanya dengan jelas seolah-olah semua itu baru terjadi kemarin sore.
Sore itu tanteku menelepon mengatakan berita kematian mamaku, dia menyuruhku bersiap-siap karena kami harus pergi segera ke kota Payakumbuh, kota kelahiran mamaku, dimana ia menghabiskan sisa-sisa waktu terakhirnya. Saat itu hujan deras, dan adikku juga ada di rumah. Kami menangis bersama, namun suara tangis kami tenggelam oleh suara hujan dan petir yang lebih menggelegar.
Itu adalah kenangan tentang hujan yang tidak menyenangkan. Aku memutuskan untuk berhenti menangis dan menyiapkan baju-bajuku, memberi instruksi pada adikku, lalu menitipkan dua motorku di rumah Surya, teman masa kecilku yang rumahnya ada di sebelah rumah. Aku bahkan masih ingat bagaimana ekspresi mama Surya mendengar kematian mamaku. Dan beliau ikut menangis.
Dan aku tidak pernah bisa lupa bagaimana di tengah-tengah hujan, para tetangga masih sempat berdatangan, menemaniku menunggu mobil jemputan sembari duduk melingkar membacakan surat yaasin untuk almarhumah mama. Semua kejadian itu berlangsung amat sangat cepat seolah aku tengah melompati waktu.
Saat itu aku berumur 17 tahun. Namun hanya 5 tahun aku benar-benar merasakan hidup bersama mamaku. Dulu, beliau adalah wanita kantoran yang selalu pergi pagi dan pulang sore. Aku jarang sekali menghabiskan waktu bersama mama. Aku bahkan tidak ingat, hingga berumur 12 tahun, apa saja yang kulakukan bersama mamaku dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu papaku meninggal. Setahun sebelum papa meninggal, mama berhenti bekerja. Kantornya mengalami pailit karena bahan baku sulit di dapat. Omong-omong, saat itu mama bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang furniture. Sejak papaku meninggal itulah, aku, mama, dan adikku benar-benar hidup sebagai keluarga.
Namun tetap saja, aku tidak terlalu dekat dengan mama. Adikku yang lebih dekat dengan beliau. Saat itu, mungkin memang mamaku lebih perhatian pada adikku. Selain karena umurku yang lebih tua, tentu karena adikku yang paling sedikit menerima kasih sayang dari papa selama papa masih hidup. Selama ini adikku hidup terpisah dari kami, dia tinggal bersama nenek sejak umur 6 bulan. Begitu dia tinggal bersama kami, dua tahun kemudian papa meninggal. Benar-benar singkat.
Namun aku tidak mengeluh. Hidupku yang tanpa mama selama ini membuatku terkesan mandiri. Aku bisa melakukan semuanya sendirian. Mengerjakan PR dan lainnya, aku tidak pernah meminta bantuan mamaku. Karena itu aku merasa tidak dekat dengan mama.
Namun ketika mama meninggal, aku sadar bahwa 12 tahun hidupku yang jauh dari mama telah terbayar lunas. Jika sekarang ditanya aku lebih mengenal siapa, tentu aku lebih mengenal mamaku. Mungkin karena aku saat itu tidak terlalu sering bermain di luar rumah, atau memang mama sudah berusaha keras untuk dekat denganku tanpa aku sadari.
Dan jika aku melihat ibu orang lain, aku tidak pernah berhenti bersyukur, karena aku menganggap mamaku telah berjuang lebih baik dari ibu orang lain. Bahwa mamaku lebih baik dari ibu orang lain.
Aku benar-benar sangat bersyukur. Terimakasih Ma. Selamat hari ibu.
Comments
Post a Comment